Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Februari 2012
Sejarah Bob Marley dan regge
Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston
Jenis-Jenis Musik
- Musik Klasik
Musik klasik biasanya merujuk pada musik klasik Eropa, tapi kadang juga pada musik klasik Persia, India, dan lain-lain. Musik klasik Eropa sendiri terdiri dari beberapa periode, misalnya barok, klasik, dan romantik.
Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengacu pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21.
Musik klasik Eropa dibedakan dari bentuk musik non-Eropa dan musik populer terutama oleh sistem notasi musiknya, yang sudah digunakan sejak sekitar abad ke-16.Notasi musik barat digunakan oleh komponis untuk memberi petunjuk kepada pembawa musik mengenai tinggi nada, kecepatan, metrum, ritme individual, dan pembawaan tepat suatu karya musik. Hal ini membatasi adanya praktek-praktek seperti improvisasi dan ornamentasi ad libitum yang sering didengar pada musik non-Eropa (bandingkan dengan musik klasik India dan musik tradisional Jepang) maupun musik populer.
Dahulu musik klasik di Eropa terutama digunakan untuk keperluan lagu di Gereja ataupun lagu untuk pengiringan Raja. Sejalan dengan perkembangan, mulai juga bermunculan musik klasik yang digunakan untuk keperluan lain, seperti misalnya musik klasik yang menggambarkan visual secara audio, contohnya lagu Cat and Mouse yang menggambarkan kucing mengejar tikus.
Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengacu pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21.
Musik klasik Eropa dibedakan dari bentuk musik non-Eropa dan musik populer terutama oleh sistem notasi musiknya, yang sudah digunakan sejak sekitar abad ke-16.Notasi musik barat digunakan oleh komponis untuk memberi petunjuk kepada pembawa musik mengenai tinggi nada, kecepatan, metrum, ritme individual, dan pembawaan tepat suatu karya musik. Hal ini membatasi adanya praktek-praktek seperti improvisasi dan ornamentasi ad libitum yang sering didengar pada musik non-Eropa (bandingkan dengan musik klasik India dan musik tradisional Jepang) maupun musik populer.
Dahulu musik klasik di Eropa terutama digunakan untuk keperluan lagu di Gereja ataupun lagu untuk pengiringan Raja. Sejalan dengan perkembangan, mulai juga bermunculan musik klasik yang digunakan untuk keperluan lain, seperti misalnya musik klasik yang menggambarkan visual secara audio, contohnya lagu Cat and Mouse yang menggambarkan kucing mengejar tikus.
Senin, 19 Desember 2011
Belajar Alat Musik Perkusi
Antropolog dan sejarawan umumnya berpendapat instrumen musik
perkusi merupakan alat bantu bermain musik pertama yang pernah
diciptakan, sementara suara manusia merupakan alat musik pertama yang
digunakan manusia. Instrumen perkusi seperti tangan, kaki, tongkat,
batu, dan batang kayu sangat mungkin masuk sebagai generasi selanjutnya
dalam evolusi musik.
Seiring
dengan dibuatnya perkakas yang digunakan untuk berburu, dan bertani,
keahlian dan teknologi yang ada membuat manusia mampu untuk membuat
instrumen yang lebih kompleks. Sebagai contoh, batangan kayu sederhana
dilubangi agar menghasilkan bunyi dalam intonasi yang lebih panjang
(sebagai contoh: bedug, gendang), dan beberapa instrumen tersebut
selanjutnya dikombinasikan untuk menghasilkan ragam suara yang berbeda.
Instrumen
perkusi diklasifikasikan ke dalam bermacam-macam kriteria, terkadang
bergantung pada konstruksinya, adat istiadat/tradisi, fungsi dalam
teori musik dan orkestra, atau kelaziman dengan pengetahuan umum yang
ada.Instrumen perkusi terkadang dikasifikasikan sebagai "instrumen
berintonasi" atau "instrumen tak berintonasi". Meskipun benar,
klasifikasi demikian secara luas terlihat masih kurang tepat
Dalam
setiap jenis musik, perkusi memainkan peranan yang penting. Dalam
pertunjukkan marching band, perkusi digunakan sebagai penjaga tempo,
dan beat yang memungkinkan para pemain berjalan secara
serempak dan dalam irama dan kecepatan yang sama. Dalam musik jazz
klasik, pendengar dapat dengan segera membedakan jenis ritme dari
hi-hat atau bunyi simbal saat kata "swing" diucapkan. Dalam kultural
musik yang lebih populer, hampir tidak mungkin untuk menamakan tiga
atau jenis irama pada musik rock, hip-hop, rap, funk atau bahkan soul
karena pola permainan perkusi tidak memiliki irama dengan beat yang
sama.
sumber : http://dayatadam.blogspot.com/2011/01/belajar-alat-musik-perkusi.html
Sabtu, 17 Desember 2011
Instrumen musik perkusi
Instrumen perkusi pada dasarnya merupakan benda apapun yang dapat menghasilkan suara baik karena dipukul, dikocok, digosok, diadukan, atau dengan cara apapun yang dapat membuat getaran pada benda tersebut. Istilah instrumen perkusi biasanya digunakan pada benda yang digunakan sebagai pengiring dalam suatu permainan musik.
Sejarah
Sejarah
Antropolog dan sejarawan umumnya berpendapat instrumen musik perkusi merupakan alat bantu bermain musik pertama yang pernah diciptakan, sementara suara manusia merupakan alat musik pertama yang digunakan manusia. Instrumen perkusi seperti tangan, kaki, tongkat, batu, dan batang kayu sangat mungkin masuk sebagai generasi selanjutnya dalam evolusi musik.
Seiring dengan dibuatnya perkakas yang digunakan untuk berburu, dan bertani, keahlian dan teknologi yang ada membuat manusia mampu untuk membuat instrumen yang lebih kompleks. Sebagai contoh, batangan kayu sederhana dilubangi agar menghasilkan bunyi dalam intonasi yang lebih panjang (sebagai contoh: bedug, gendang)
Manfaat Barang Bekas Di Jadikan Alat Musik Perkusi
Manfaat Barang Bekas Di Jadikan Alat Musik Perkusi
Sebenarnya semua benda bisa dijadikan alat musik. Macam-macam alat perkusi barang bekas ini antara lain berasal dari peralatan rumah tangga seperti panci, wajan, gelas, galon air minum, maupun ember plastik. Tidak hanya dari peralatan rumah tangga saja, tapi juga dari bahan bangunan seperti kaleng bekas cat rumah, paralon atau drum bekas aspal jalan. Perkusi dari barang bekas ini pada umumnya dari peralatan rumah tangga. Karena merupakan barang bekas, berarti yang digunakan adalah peralatan yang sudah pernah terpakai dan sudah berubah fungsi. Tapi tidak semua perkusi barang bekas ini kondisinya rusak. Untuk menyetel nada perkusi barang bekas ini juga unik. Biasanya alat perkusi barang bekas ini diberi tambahan seperti tempelan lakban di sekeliling peralatan agar nada yang terbentuk lebih nyaring. Atau untuk memukul peralatan perkusi barang bekas digunakan alat tambahan lain seperti stik atau tongkat.
Uniknya lagi, untuk mendapatkan nada atau suara perkusi barang bekas yang menarik dan bagus, membutuhkan waktu yang tidak sebentar juga keahlian khusus dalam membuatnya. Salah satu cara menyetel nada perkusi barang bekas yaitu dengan menempelkan lakban, kemudian diatur nada yang akan dihasilkan.
Perkusi barang bekas ini mempunyai banyak manfaat dan berguna antara lain:
* Ramah lingkungan
Memakai perkusi dari barang bekas berarti ikut membantu menjaga kelestarian lingkunga dengan menggunakan daur ulang peralatan yang tidak terpakai lagi.
* Mengurangi sampah anorganik
Pemakaian peralatan seperti botol plastik dan kaleng bekas sebagai perkusi barang bekas dapat membantu mengurangi banyaknya sampah anorganik yang tidak dapat diurai.
Kini mulai banyak kelompok pemusik pemula yang menggunakan perkusi barang bekas sebagai alat musiknya. Beberapa diantaranya bahkan sudah mulai dikenal dalam masyarakat. Salah satunya adalah Tataloe Perkusi yang mulai merambah ranah musik Indonesia dengan perkusi barang bekasnya.
Sebenarnya semua benda bisa dijadikan alat musik. Macam-macam alat perkusi barang bekas ini antara lain berasal dari peralatan rumah tangga seperti panci, wajan, gelas, galon air minum, maupun ember plastik. Tidak hanya dari peralatan rumah tangga saja, tapi juga dari bahan bangunan seperti kaleng bekas cat rumah, paralon atau drum bekas aspal jalan. Perkusi dari barang bekas ini pada umumnya dari peralatan rumah tangga. Karena merupakan barang bekas, berarti yang digunakan adalah peralatan yang sudah pernah terpakai dan sudah berubah fungsi. Tapi tidak semua perkusi barang bekas ini kondisinya rusak. Untuk menyetel nada perkusi barang bekas ini juga unik. Biasanya alat perkusi barang bekas ini diberi tambahan seperti tempelan lakban di sekeliling peralatan agar nada yang terbentuk lebih nyaring. Atau untuk memukul peralatan perkusi barang bekas digunakan alat tambahan lain seperti stik atau tongkat.
Uniknya lagi, untuk mendapatkan nada atau suara perkusi barang bekas yang menarik dan bagus, membutuhkan waktu yang tidak sebentar juga keahlian khusus dalam membuatnya. Salah satu cara menyetel nada perkusi barang bekas yaitu dengan menempelkan lakban, kemudian diatur nada yang akan dihasilkan.
Perkusi barang bekas ini mempunyai banyak manfaat dan berguna antara lain:
* Ramah lingkungan
Memakai perkusi dari barang bekas berarti ikut membantu menjaga kelestarian lingkunga dengan menggunakan daur ulang peralatan yang tidak terpakai lagi.
* Mengurangi sampah anorganik
Pemakaian peralatan seperti botol plastik dan kaleng bekas sebagai perkusi barang bekas dapat membantu mengurangi banyaknya sampah anorganik yang tidak dapat diurai.
Kini mulai banyak kelompok pemusik pemula yang menggunakan perkusi barang bekas sebagai alat musiknya. Beberapa diantaranya bahkan sudah mulai dikenal dalam masyarakat. Salah satunya adalah Tataloe Perkusi yang mulai merambah ranah musik Indonesia dengan perkusi barang bekasnya.
Perkusi Kontemporer Satukan Musik Eropa dan Asia
Musisi Mongolia beraksi di depan para penonton acara Cracking Bamboo, acara ini melibatkan 60 musisi dari berbagai belahan dunia
Oleh Muhammad Avisena
Taman Budaya Bandung, Rabu malam kemarin Gedung teater tertutup di sana ramai sekali penonton. Sekitar 700an pengunjung menyaksikan sebuah jenis musik yang sama sekali baru. Gabungan antara musik modern dan tradisional. Percampuran antara musik Eropa dan Asia. 60 musisi yang datang dari berbagai penjuru dunia itu memang menyuguhkan musik yang begitu kontras. Tempo yang pelan dan tiba-tiba cepat, atau musik yang lirih kemudian menghentak keras. Walaupun begitu, para penonton tampak sangat antusias. Tepuk tangan selalu mengiringi ketika sebuah lagu berakhir.
Cracking Bamboo adalah nama pagelaran musik tersebut. Prof. Bernhard Wulff, profesor musik dari Jerman yang menjadi pimpinan artistik acara tersebut mengatakan bahwa Cracking Bamboo merupakan sebuah konsep yang menjembatani dan mempertemukan musik Asia dan Eropa. Perkusi merupakan instrumen yang menjadi penjembatan terjadinya penggabungan ini. Menurutnya perkusi merupakan satu-satunya instrumen yang dapat menjadi penghubung antara musik negara Barat dengan musik tradisional di luar Eropa.
Menurut Profesor yang telah mendirikan beberapa ensemble termasuk juga festival-festival musik bertaraf internasional ini perkusi sebelumnya hanya memainkan peran sebagai “bumbu untuk akustik” saja jika dilihat dari komposisi. Namun, sejak abad ke 20 para komponis telah mengembangkan posisi yang sangat berbeda untuk alat musik pukul ini. Menurut Bernhard alat musik perkusi bisa terbuat dari apa saja, bisa dari barang-barang murah sekalipun, seperti peralatan dapur, gelas, ember, selang plastik, dan sebagainya.
“Tidak harus melulu mempergunakan alat yang mahal, tetapi dengan alat yang dari warung atau yang dari toko pun kita bisa membuat musik,” jelasnya.
Cracking Bamboo sendiri merupakan sebuah nama yang dia ambil dari karakter bambu yang gemerisik, retak satu bunyi yang menuntut perhatian kita dalam cara yang tak biasa. Asisten Program Budaya Goethe Institute Sulastri Majid yang menjadi penyelenggara acara tersebut mengatakan bahwa bambu memang merupakan komponen utama dalam pertujukan ini, namun tidak melulu bambu. Ada banyak alat musik lain yang bukan terbuat dari bambu.
“Bambu itu punya bunyi-bunyi yang begitu menjadikan harmonisasi ya ketika kita gerakan bambu-bambu itu, seperti angklung,” katanya.
Menurut Sulastri, tujuan utama acara ini adalah untuk memperkenalkan musik baru yang bernuansa universal ini. Dari sisi musik modern, musisi yang hadir berasal dari banyak negara seperti Jerman, Spanyol, Italia, Denmark, Norwegia, Polandia, USA, Inggris, dan Kanada. Sedangkan dari Asia yang mewakili sisi musik tradisional mereka berasal dari Indonesia, Mongolia, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.
“Kita ingin memperkenalkan, terutama di Jerman, bahwa musik itu tidak hanya sekedar klasik saja. Jadi mereka mencari sesuatu yang lain. Tujuan kami bukan untuk komersial, tapi untuk pembelajaran, untuk apresiasi bahwa dengan musik itu kita bisa melakukan banyak hal, termasuk persahabatan, termasuk karya yang baru dari berbagai jenis musik dunia,” jelasnya.
Sulastri mengatakan bahwa pagelaran musik baru ini pertama kali digagas di Hanoi, Vietnam. Setelah pertemuan di situ selama 2 minggu, segeralah pertunjukkan dimulai. Di Indonesia sendiri ini sudah pernah diadakan di Jakarta. Namun di Bandung, acara ini baru pertama kali digelar. Setelah acara ini pun, para musisi akan langsung terbang ke Saigon untuk mengadakan konser yang sama.
“Di Bandung baru pertamakalinya. Pertamakalinya dan betul-betul besar sekali. Ini tidak mudah , karena dari banyak negara ya. Jadi untuk mendatangkan ini sebenarnya begitu memerlukan tenaga, pikiran, dan segalanya,” tuturnya.
Rencana untuk menagadakan Cracking Bamboo sebenarnya menurut Sulastri sudah dipikirkan sejak dua tahun silam, tapi karena begitu banyak musisi dari berbagai negara membuat hal itu baru terwujud sekarang. Namun, dengan berbagai kesulitan yang dia hadapi, dia sangat puas mengadakan acara tersebut.
“kalau persiapan di sini sudah dari beberapa bulan yang lalu. Dari mencari tempat, mencari segalanyalah. Kan ini tidak mudah, mencari instrumen yang kita butuhkan, tidak semua instrumen dibawa ya. Tapi saya sangat senang karena pagelarannya begitu menarik, begitu sukses. begitu spektakuler,” ujarnya.
Menurut Sulastri tanggapan penonton pun sudah sangat bagus. penonton begitu antusias dalam menikmati pagelaran. Hal inilah yang menurutnya perlu diapresiasi. Oleh sebab itu, menurutnya acara seperti ini akan terus berlanjut, tidak hanya sekali.
Selasa, 13 Desember 2011
Perkusi Kontemporer ; Improvisasi baru bermusik
Alunan musik bertalu – talu. Gemuruh rebana, ketukan kenong dan gamelan bernada pentatonis, arumba dan bambu – bambu yang dirangkai menjadi suatu nada diatonis disatupadukan menjadi kesatuan musik. Apakah harmonisasi itu bernama perkusi?
Berikut tadi adalah deskripsi musik perkusi kontemporer yang dewasa ini mulai menjamur di kalangan masyarakat. Perkusi menyajikan citarasa yang berbeda dalam permainan musik. Eksplorasi dari musik perkusi ini berasal dari komposisi alat musik yang asalnya biasa saja menjadi sebuah harmonisasi seni yang sangat luar biasa. Harmonisasi dari berbagai macam karakter alat musik yang berbeda inilah yang menjadikan perkusi semakin hidup dan kaya akan warna. Tak diragukan lagi bahwa musik perkusi berhasil melahirkan masterpiece baru dalam ranah seni musik dan budaya bangsa Indonesia.
Indonesia adalah negeri yang kaya akan keanekaragaman suku dan budaya. Keberagaman ini menimbulkan variasi budaya yang beragam pula seperti dialek, kuliner, pakaian adat dan juga kesenian daerah. Kekayaan budaya ini adalah starting point untuk mengkawinkan musik perkusi dengan suatu budaya yang merupakan bentuk jati diri dari daerah lokal. Unsur keberagaman merupakan kekuatan perkusi kontemporer dalam bersaing dengan musik lain di masyarakat. Perkawinan atau pengkolaborasian pasti akan melahirkan komposisi musik yang tentunya menjadi suatu semangat kolektif untuk Indonesia.
Perkusi merupakan musik yang mampu memiliki segmentasi pasar dari segala golongan tanpa peduli status sosial, bukan seperti musik jazz, rock, R&B atau musik lain yang penikmatnya identik dari satu jenis golongan. Hal ini terbukti karena kita tidak perlu merogoh kocek dalam demi menonton performing art perkusi. Umumnya musik penyuguhan musik ini bahkan tak memungut biaya kontribusi. Namun, murahnya musik perkusi tak lantas mengurangi kualitas musik didalamnya. Spirit berkesenian yang murah dan berkualitas sangat cocok untuk masyarakat kita yang saat ini sedang mengalami krisis multidimensi.
Perkusi berasal dari istilah Latin percussio (memukul) dan percussus (kata benda yang berarti “pukulan”). Alat musik perkusi (disebut pula alat musik pukul atau tabuh) adalah alat musik yang menghasilkan suara dengan dipukul, ditabuh, digoyang, digosok, atau tindakan lain yang membuat objek bergetar dengan suatu alat, tongkat, maupun dengan tangan kosong.
Pada tahun 1960 musik perkusi sudah mulai dikenal bangsa barat dengan menggunakan instrument yang seadanya. Kemudian pada tahun 1970 musik perkusi merambah negara kita. Pada waktu itu musik perkusi diperkenalkan oleh sekelompok seniman dari Akademi Seni Karawitan Indonesia ASKI yang beranggotakan Rahayu Supanggah, Astanto dan AL Suwardi ke Jakarta. Dengan canggihnya kemajuan informasi dan komunikasi membuat musik ini begitu cepat tersebar sampai kepelosok negeri. Dan saat ini musik ini pun telah menggeliat diberbagai daerah di Indonesia.
Pada awlanya instrument perkusi hanya digunakan sebagai rhytme atau pelengkap dalam sebuah klimaks musik. Eksistensi perkusi telah ada sebelum instrument musik lain seperti gitar, piano, maka sebenarnya perkusi begitu akrab dengan kita. Seiring dengan pangsa pasar musik yang tak pernah berhenti untuk dieksplorasi perkusi menemukan ruang sendiri dan bukan untuk menjadi pelengkap. Perkusi merupakan ensamble instrument yang paling utama.
Akulturasi Perkusi
Tak terbatasnya alat musik yang digunakan dalam perkusi ini membuat seniman – seniman mencoba mengkolaborasikannya dengan gamelan yang merupakan ciri khas dari daerah tertentu. Hal ini sah – sah saja mengingat perkusi merupakan musik umum dan tak ada ketetapan untuk mengatur segala hal di dalamnya. Adanya kolaborasi musik perkusi dengan gamelan setempat malah memberikan perpaduan yang sangat indah. Hal tersebut juga dapat digunakan sebagai stimulant agar musik perkusi lebih dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat di tanah air.
Sebenarnya perkusi dan gamelan setempat memiliki keintiman sama sebagai instrumen musik yang dapat dengan mudah dimainkan. Instrument musik tradisional yang biasanya dikolaborasikan adalah gambang kromong, gamelan, kulintang, konga, angklung, sasando rote dan yang lainnya. Etnisitas perkusi menimbulkan suasana yang unik dalam genre musik ini. Boleh dikatakan unsur dari perkusi berangkat dari suatu musik tradisi dan menyatukan tradisi untuk menjadi satu musik baru yang dapat diterima oleh tradisi mana pun.
Tak perlu dipungkiri bahwa proses akulturasi dalam musik perkusi menjadikan suatu masterpiece yang indah. Pemanfaatan musik tradisional yang diusung oleh para musisi lewat budaya daerah yang berbeda menambah tingginya musikalitas perkusi. Improvisasi yang digunakan oleh para musisi yang mengolah perkusi dengan instrument musik lokal merupakan bentuk kecintaan terhadap musik dan budaya. Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetap menghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masing musisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.
Akulturasi maupun etnisitas dari musik dan budaya melalui perkusi kontemporer yang diusung para musisi memiliki tujuan yang sangat mendasar yaitu membuat masyarakat kembali mencintai khazanah budaya lokal yang mulai luntur dan pudar.
Perkusi Kontemporer
Keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik kepada masyarakat adalah alasan timbulnya variasi baru perkusi. Mengingat bahwa perkusi merupakan musik yang benar – benar berbeda dengan musik lain, para musisi mencoba mengkomposisikan instrument lain dalam rangka mencari nafas baru agar tidak konvensional dan lebih up to date.
Adalah perkusi kontemporer varian baru yang merupakan hasil kreasi seniman musik dalam menciptakan jenis aliran perkusi dengan atmosfer modern. Perkusi kontemporer mencoba memanfaatkan alat – alat yang bahkan tidak dikategorikan instrument musik seperti alat – alat rumah tangga ; panci, botol, plastik, kentongan, bambu dan lain – lain. Namun penambahan komposisi alat musik tersebut tidak mampu mengurangi citarasa indahnya perkusi jika diracik dengan baik.
Penguasaan terhadap musik klasik ataupun musik modern tidak begitu diperlukan dalam perkusi kontemporer. Kunci dalam permainan perkusi adalah penghayatan dalam mengapresiasikannya. Dengan adanya penghayatan maka musisi dapat menciptakan kenyamanan dalam bermusik dan akan melahirkan energi kenyamanan yang nantinya dapat tersalurkan oleh para pendengar ataupun para penikmat musik.
Dewasa ini perkembangan perkusi kontemporer terus meningkat seiring dengan perkembangan musik tanah air. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya konser – konser atau festifal yang menyajikan penampilan perkusi kontemporer. Konser musik ini tak hanya pertunjukan di tanah air, musik perkusi kontemporer pun berani berunjuk gigi di festival musik berskala internasional.
Walhasil musikalitas perkusi kontemporer baik berangkat dari improvisasi akulturasi budaya benar-benar sangat tinggi. Semoga pelestarian akan musik perkusi di Indonesia ini terus berlangsung dan berkembang secara terus menerus dan dapat menjadikan spirit baru untuk mencintai budaya Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)



